Museum Sepi, Data Bicara: Membaca Dinamika Pengunjung Museum Nekara Selayar
Oleh. A. Tenri Ajeng Pada suatu hari di tahun 2025, saya berdiri cukup lama di halaman Museum Nekara Selayar. Pintu […]
Oleh. A. Tenri Ajeng Pada suatu hari di tahun 2025, saya berdiri cukup lama di halaman Museum Nekara Selayar. Pintu […]
Oleh. A. Tenri Ajeng Pada satu titik dalam sejarahnya, nekara hanyalah benda perunggu besar dengan pola hias rumit—diam, berat, dan
Pendahuluan Dalam sistem pelestarian cagar budaya, penemuan dan pencarian merupakan tahap paling awal yang menentukan apakah suatu benda berpotensi bernilai
Di suatu sore yang cerah, seorang Arkeolog muda bernama Aria memulai petualangan intelektualnya. Aria terpukau dengan keindahan dan misteri seni
Ku mengangkasa di atas awan putih: 38.000 kaki. Jauh di atas permukaan bumi, berjarak ruang.Ruang kerinduan padamu. Tiga baris, tiga
Rindu yang terperangkap, menghujam dalam sanubari, menelikung jejak langkah yang telah terlewati dalam sebuah perjalanan. Lorong waktu yang penuh rindu,
Tangan-tangan itu mengarahkan mata pada layar, membuat pandangan yang harusnya diarahkan ke depan sebagai bentuk memanusiakan tak lagi terwujudkan. Layar-layar
Gelap tak ubahnya terang Gelapmu dengan kelammu membuat gulita hitam pekat penuh jelaga: kepalsuan. Itulah fatamorgana kekinian. Kepurapuraan dalam arogansi
Baja yang mengangkasa, didorong tekanan dari tenaga yang dipicu sebuah cairan. Tiga puluh enam ribu kaki, jarak yang tercipta antara
Kompleks Makam Pangeran Diponegoro di Makassar telah resmi ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya Peringkat Provinsi Sulawesi Selatan. Keputusan ini dikeluarkan