Misteri Jejak Hominin 1 Juta Tahun di Geopark Wallanae Sulawesi

Sulawesi kembali mencuri perhatian dunia setelah publikasi Nature 6 Agustus 2025 mengungkap artefak serpih berusia minimal 1,04 juta tahun di situs Calio. Penemuan ini tidak hanya merombak peta migrasi hominin Pleistosen awal, tetapi juga membuka peluang menghidupkan kawasan ini yang sementara diperjuangkan untuk menjadi Geopark Wallanae sebagai destinasi riset dan wisata ilmiah yang mendunia.

Studi ini menyelidiki kabar lama bahwa hominin kuno menyeberangi laut Wallacea jauh lebih awal dari yang diperkirakan, dengan fokus pada pulau Sulawesi. Sebelumnya, bukti artefak di Flores menunjukkan kedatangan sekitar 1,02 ± 0,02 juta tahun lalu, sedangkan Sulawesi hanya memiliki bukti nyata sejak 194 ribu tahun lalu. Para peneliti, dipimpin Budianto Hakim (BRIN) dan Adam Brumm (Griffith University), menggali tujuh artefak serpih batu (flakes) di situs terbuka Calio, Sulawesi selatan. Lapisan batu pasir keras di lokasi tersebut berhasil ditanggal menggunakan paleomagnetik serta penanggalan langsung pada fosil babi, menegaskan umur minimal artefak 1,04 juta tahun.

Budianto Hakim, arkeolog senior alumni Departemen Arkeologi Unhas angkatan 1985 sekaligus penerima Ahmad Bakrie Award tahun 2024, bersama dengan dua penulis artikel ini yaitu Adam Bruum dan Basran Burhan. Dalam studi ini Budianto Hakim memberikan apresiasi atas kekayaan data geologi dan arkeologi yang dipaparkan dalam studi ini. Menurutnya, metodologi gabungan paleomagnetik dan radiometri fosil babi menjadi contoh standar penelitian kuarter di Indonesia.

Penemuan yang Mengubah Narasi Wallacea

Pada dasarnya, temuan ini menggeser pemahaman kita tentang rute migrasi manusia purba di Wallacea. Sebelumnya, bukti hominin di Flores berumur sekitar 1,02 juta tahun, sementara Sulawesi baru terkonfirmasi 194 ribu tahun lalu. Pada lapisan batu pasir keras di Calio, tim gabungan BRIN dan Griffith University menemukan artefak batu berupa serpih terbuat dari chert lokal. Ciri khasnya adalah tepi tajam dan papan penerobos inti (platform) yang jelas, menunjukkan hominin di Calio menggunakan teknik detasemen terkontrol. Ini mirip teknologi Oldowan awal, walau ada adaptasi lokal terhadap bahan baku yang lebih keras dan tebal. Tim peneliti berhasil mendeteksi tujuh serpih chert yang jelas hasil teknik pembuatan alat Oldowan awal.

Alat Serpih dari Situs Calio (kredit Jurnal Nature)

Tim peneliti memadukan dua metode: paleomagnetik dan penanggalan fosil babi yang terjebak dalam lapisan batu pasir yang sama. Dengan paleomagnetik, kita merekonstruksi perubahan arah medan geomagnetik pada sedimen dan mencocokkannya dengan kurva global. Sementara fosil babi—yang relatif mudah dideterminasi—memberi batas bawah umur sedimen melalui teknik radiometrik tidak langsung. Penanggalan paleomagnetik, dikombinasikan dengan radiometri fosil babi, memastikan artefak ini berumur setidaknya 1,04 juta tahun. Angka ini menandai Sulawesi lebih dulu dihuni hominin ketimbang Flores, sekaligus menggambarkan Sulawesi sebagai jembatan penting dalam koridor migrasi manusia purba di Asia Tenggara.

Ulasan Artikel Nature

Penelitian ini telah melewati proses peer-review ketat di Nature, dengan panel ahli arkeologi Pleistosen dan geologi kuarter menilai kekuatan metodologi dan kesahihan data. Pujian utama tertuju pada penggunaan kombinasi paleomagnetik dan radiometri fosil babi yang menghasilkan kerangka waktu sangat akurat.

Beberapa reviewer menyoroti keterbatasan jumlah artefak dan mendorong perluasan survei ke situs-situs sekitarnya agar pola persebaran hominin dapat dipetakan lebih komprehensif. Secara keseluruhan, artikel ini diakui sebagai terobosan karena menggeser batas pemikiran tentang jalur migrasi manusia purba, sekaligus menegaskan pentingnya Sulawesi dalam narasi evolusi Homo di Asia Tenggara.

Dari Situs Calio ke Geopark Wallanae

Penemuan artefak hominin berusia lebih dari satu juta tahun di situs Calio menjadi momentum penting bagi Kabupaten Soppeng untuk memperkuat identitasnya sebagai kawasan warisan bumi. Pada 17 Juli 2023, Bupati Soppeng secara resmi menandatangani pernyataan pencanangan Geopark Wallanae sebagai Cagar Budaya. Deklarasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan komitmen kolektif antara pemerintah daerah, DPRD, lembaga yudikatif, dan seluruh pemangku kepentingan lokal untuk menjadikan Wallanae sebagai Aspiring Geopark Nasional dan calon UNESCO Global Geopark. Fokusnya adalah pelestarian warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya, termasuk situs Calio yang kini menjadi titik kunci dalam narasi evolusi manusia purba di Asia Tenggara.

Langkah strategis ini mendapat dukungan akademik yang kuat dari Universitas Hasanuddin, yang pada Agustus 2024 mendeklarasikan berdirinya Pusat Kajian Riset Geopark Indonesia. Inisiatif ini merupakan yang pertama di Indonesia, dan bertujuan untuk mengintegrasikan riset geologi, arkeologi, dan konservasi dalam satu wadah ilmiah. Dalam seminar nasional yang digelar sebagai bagian dari Dies Natalis Unhas ke-68, para panelis memaparkan potensi Wallanae sebagai geoheritage unggulan, termasuk kontribusi warisan budaya dan arkeologi dalam pengembangan kawasan. Deklarasi ini memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjadikan Geopark Wallanae sebagai laboratorium alam yang tidak hanya melestarikan masa lalu, tetapi juga membangun masa depan berbasis pengetahuan dan keberlanjutan.

Penutup: Menyulam Masa Lalu ke Masa Depan

Penemuan hominin 1,04 juta tahun di Geopark Wallanae bukan sekadar catatan ulang tahun bumi, melainkan fondasi baru bagi pariwisata ilmiah dan konservasi warisan geologi. serta pengembangan riset arkeologi. Dengan kolaborasi riset, teknologi canggih, dan pemberdayaan komunitas, kita memiliki kunci untuk membawa Sulawesi ke panggung global sekaligus menjaga agar cerita purba ini terus hidup di benak generasi mendatang.

Penetapan kawasan ini sebagai Cagar Budaya menjadi langkah krusial dalam memastikan perlindungan hukum terhadap situs-situs penting seperti Calio, yang menyimpan artefak manusia purba dan lapisan geologi berusia jutaan tahun. Status ini tidak hanya memberikan legitimasi terhadap upaya konservasi, tetapi juga membuka peluang untuk menjadikan Wallanae sebagai laboratorium lapangan multidisipliner. Di sinilah arkeolog, geolog, antropolog, dan ilmuwan lingkungan dapat bersinergi dalam penelitian yang tidak hanya mengungkap sejarah bumi, tetapi juga merancang masa depan yang berkelanjutan.

Namun, pelestarian kawasan tidak akan bermakna tanpa keterlibatan aktif masyarakat lokal sebagai penjaga warisan dan pelaku utama pembangunan. Pemberdayaan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan Geopark Wallanae, baik melalui pendidikan, pelatihan, maupun pengembangan ekonomi berbasis budaya dan ekowisata. Ketika warga dilibatkan dalam interpretasi situs, pengelolaan destinasi, dan penyampaian narasi lokal, maka pelestarian tidak lagi menjadi beban, melainkan kebanggaan kolektif. Dengan menyulam masa lalu ke masa depan melalui perlindungan, penelitian, dan pemberdayaan, Geopark Wallanae berpotensi menjadi model nasional dalam pengelolaan kawasan warisan yang inklusif, ilmiah, dan berkelanjutan.

Silakan tinggalkan gagasan atau pertanyaan Anda di kolom komentar—bersama kita wujudkan Geopark Wallanae sebagai laboratorium alam dan panggung sejarah manusia tertua di Asia Tenggara.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top