Sebagai peneliti seni cadas (rock art), saya sering mendapati bahwa gambar-gambar di dinding gua tidak pernah dibuat tanpa alasan. Bahkan piktogram yang paling primitif sekalipun menyimpan “kode” tata perilaku masyarakatnya.
Rangkuman Buku Cerita Relief Borobudur Karmavibhanga
Buku Cerita Relief Borobudur Karmavibhanga karya Ānandajoti Bhikkhu (Ehipassiko Foundation, 2020) mengupas tuntas riwayat, konteks arkeologis, serta kandungan nilai filosofis dari 160 panel relief yang terpahat di landasan tersembunyi (hidden base) Candi Borobudur. Dibangun pada sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi di bawah naungan Dinasti Śailendra dari jutaan bongkah batu vulkanik, struktur awal kaki candi ini terpaksa ditutup rapat dengan fondasi penahan beban (buttress) demi menjaga stabilitas teknis bangunan dari risiko kelongsoran. Keberadaan lorong terisolasi ini baru terkuak kembali pada tahun 1885 oleh arsitek Belanda J.W. IJzerman, sebelum akhirnya diabadikan secara menyeluruh dalam dokumentasi foto hitam-putih oleh fotografer Keraton Yogyakarta, Kassian Cephas, pada tahun 1890. Penemuan ini semakin bernilai sejarah ketika ilmuwan Prancis Sylvain Lévi pada tahun 1928 berhasil menguraikan prasasti petunjuk beraksara Jawa Kuno dan berbahasa Sanskerta yang dipahat di bagian atas relief sebagai panduan bagi para pemahat zaman kuno.
Secara tekstual dan filosofis, susunan pahatan ini berakar pada naskah Buddhis klasik yang memiliki kesepadanan dengan Cūļakammavibhangasuttam dalam tradisi Pāļi maupun naskah Sanskerta mengenai hukum perbuatan dan akibatnya (kamma-vipāka). Narasi visual pada relief Karmavibhanga dirancang menggunakan tata ruang spasial yang terstruktur, di mana satu panel cerita umumnya dibelah menjadi beberapa bagian adegan yang dipisahkan secara alami oleh elemen penyekat seperti pohon. Pemahat secara konsisten menempatkan benih perbuatan atau sebab (kamma) di sisi sebelah kanan, sementara dampak atau buah perbuatan tersebut (vipāka) pada kehidupan mendatang dihadirkan di sisi sebelah kiri. Penataan berimbang ini menghadirkan perbandingan visual yang kontras, membimbing pembaca relief untuk memahami konsep moralitas dan konsekuensi tindakan secara intuitif.
Poin-poin kunci dalam buku ini membedah bagaimana berbagai kategori moralitas dialirkan ke dalam deretan panel relief secara rinci. Melalui panduan kata kunci prasasti seperti virūpa (berarti buruk rupa) dan maheśākhyaḥ (berarti dihormati atau berkedudukan tinggi), relief memperlihatkan dualisme nasib manusia secara gamblang. Kelompok panel awal (Panel 1–20) mengontraskan perbuatan pembunuhan dan kekerasan fisik—yang memicu kematian usia muda serta penyakit—dengan tindakan penghormatan pada kehidupan yang berbuah umur panjang dan kesehatan. Sementara itu, kelompok panel pertengahan hingga akhir (Panel 21–62) memeta-kan dampak dari riak emosi seperti kemarahan, kecemburuan, kesombongan, dan kecurangan. Perbuatan destruktif diwujudkan pada sisi kiri berupa figur bercacat tubuh (virūpa), kemiskinan, serta pekerja kasar, sedangkan sifat tenggang rasa dan kebajikan diwujudkan dalam bentuk sosok berkeagungan (maheśākhyaḥ), kemakmuran, serta kedudukan sosial yang tinggi. Secara keseluruhan, karya Ānandajoti Bhikkhu ini menyingkapkan bagaimana ajaran spiritual yang abstrak berhasil diarsitekturkan menjadi bahasa visual yang sarat akan makna kehidupan sosial dan nilai moral

Prinsip yang sama berlaku ketika kita meneliti 160 panel relief Karmawibhangga di kaki tersembunyi Candi Borobudur. Namun, begitu kita mencermati arsip foto karya Kassian Cephas pada Seri O ini, kita akan menjumpai adegan-adegan yang tidak biasa untuk sebuah bangunan suci: penyiksaan di neraka, hewan-hewan yang dibantai, perkelahian berdarah, hingga adegan-adegan yang menyentuh ranah asusila dan kepekaan moral.
Di sinilah muncul pertanyaan penting bagi kita yang bergerak di bidang arkeologi dan pelestarian warisan budaya: bagaimana kita membaca dan mempresentasikan adegan-adegan sensitif ini kepada masyarakat modern tanpa terjebak dalam sensasionalisme vulgar atau justru sensor yang berlebihan?
Membaca Bahasa Sintaksis Batu: Pola “Sebab” dan “Akibat”
Untuk memahami relief ini secara bijak, kita perlu memahami sintaksis atau “tata bahasa” visual yang digunakan para pemahat Jawa Kuno abad ke-9.
Secara umum, susunan panel Karmawibhangga dirancang dengan logika garis waktu yang sangat lugas. Biasanya, dalam satu panel atau dua panel yang berdampingan, terdapat pembagian area yang jelas:
- Sisi Perbuatan (Sebab): Menggambarkan aksi manusia—seperti berburu secara rakus, bergosip merusak reputasi orang, bertengkar, atau sebaliknya: merawat orang sakit, memberi makan pengembara, dan menjaga lingkungan.
- Sisi Konsekuensi (Akibat): Menggambarkan dampak langsung atau jangka panjang dari aksi tersebut—mulai dari penderitaan fisik, penyakit, kehidupan di alam neraka, hingga kelahiran kembali di lingkungan yang penuh kedamaian dan kehormatan.
Para pemahat kuno tidak menghadirkan adegan kekerasan atau hal tabu demi memberikan efek kejut (shock value) atau pemuasan visual belaka. Adegan-adegan gelap itu dipahat sebagai variabel hukum sebab-akibat yang ilmiah dalam pandangan kosmologi filosofis masa itu.
Menjinakkan yang Tabu: Menggeser Fokus dari “Aksi” ke “Konsekuensi”
Dalam merancang narasi publik atau penulisan sejarah budaya, pendekatan terbaik untuk menangani konten sensitif bukanlah dengan menyembunyikannya, melainkan dengan menggeser sudut pandang (framing).
Ketika kita melihat panel yang menggambarkan penyiksaan di neraka—misalnya orang yang direbus dalam kawah atau diserang hewan buas—lensa arkeologi-psikologis tidak mengajak kita fokus pada kengerian fisiknya. Fokus kita ditarik pada penyebab dasarnya:
- Kenapa karakter itu mengalami penderitaan batin yang hebat? Karena di panel sebelumnya, ia digambarkan merusak keharmonisan komunitas atau bertindak serakah tanpa memedulikan alam sekitar.
- Mengapa adegan vulgar atau hawa nafsu dimunculkan? Bukan untuk dieksploitasi secara erotis, melainkan sebagai peringatan visual bahwa ketika nafsu rendah mengendalikan akal sehat, manusia akan kehilangan martabat dan kedamaian dirinya.
Dengan cara ini, narasi yang berpotensi menjadi “vulgar” atau “menakutkan” bertransformasi menjadi pelajaran tentang tanggung jawab moral dan psikologis.
Kebebasan Memilih (Free Will) di Atas Andesit
Hal paling humanis dari relief Karmawibhangga adalah bagaimana ia menempatkan kebebasan memilih (free will) di tangan manusia.
Karmawibhangga tidak menggambarkan manusia sebagai korban pasrah dari takdir yang buta. Setiap panel menyajikan kontras yang ekstrem antara jalan kebajikan dan jalan kebinasaan. Pesan tersiratnya sangat tegas: kamu adalah pemilik penuh atas tindakanmu, dan kamu jugalah yang akan memetik buahnya.
Sebagai pengamat warisan budaya, saya melihat ini sebagai bentuk pendidikan karakter paling kuno di Nusantara. Sebelum ada buku petunjuk moral atau hukum tertulis yang rumit, dinding batu Borobudur sudah menjadi “kompas etika visual” yang mengajarkan empati: bahwa apa yang kita lakukan kepada makhluk lain pada hakikatnya adalah apa yang kita lakukan pada diri kita sendiri.
Cermin Kuno yang Belum Retak
Menyelami kode-kode sebab-akibat di kaki Borobudur menyadarkan kita bahwa isu-isu sosial manusia seribu tahun lalu ternyata tidak jauh berbeda dengan hari ini. Kejahatan, ketamakan, kasih sayang, dan kedermawanan adalah benang merah yang menghubungkan manusia dari setiap zaman.
Lalu, bagaimana jika cermin batu abad ke-9 ini kita berdirikan tepat di hadapan masyarakat abad ke-21? Apa yang terjadi jika pola sebab-akibat Karmawibhangga kita refleksikan ke dalam riuk-pikuk dunia digital, linimasa media sosial, dan perilaku kita sehari-hari?
Mari kita tuntas pembahasannya di bagian penutup: Bagian 4: Karmawibhangga di Era Digital: Apakah Kita Berubah?