Ketika saya mengamati lukisan cadas purba di dinding-dinding gua (rock art), satu hal yang selalu membuat saya terpana adalah kerapuhan sekaligus kejujuran emosi yang ditinggalkan oleh para pembuatnya. Mereka tidak sekadar menggambar; mereka sedang merekam jejak keberadaan diri mereka.
Perasaan serupa muncul saat saya membedah foto-foto arsip relief Karmawibhangga karya Kassian Cephas. Di balik dinding batu tambahan Borobudur, terpahat lantai dasar candi yang mewakili Kamadhatu—alam wujud yang masih dikuasai oleh hasrat, nafsu, dan emosi duniawi.
Namun, alih-alih menampilkan konsep spiritual yang mengawang-awang atau penuh instruksi kaku, para pemahat abad ke-9 memilih pendekatan yang sangat membumi: mereka merekam keseharian kita.
Dari Naskah Sutra ke Pahatan Batu: Contoh Panel No. O 109
Hubungan antara pahatan di dinding dan naskah ajaran kuno terungkap secara terang benderang pada dekade 1930-an. Para peneliti menyadari bahwa relief Seri O ini bukan sekadar imajinasi bebas pemahat, melainkan penerjemahan visual langsung dari bait-bait sutra. Ambil contoh Relief No. O 109 yang terletak di dinding sisi utara Candi Borobudur. Berdasarkan kajian pakar arkeologi N.J. Krom, panel ini dipahat berdasarkan narasi Sutra 27 dan 28 dari kitab Mahakarmavibhangga.

Di sini kita melihat kejeniusan pembuat candi: ajaran luhur sutra yang abstrak dan filosofis ditransformasikan menjadi adegan figuratif yang hidup. Tokoh-tokohnya diberi busana, gaya rambut, serta latar bangunan lokal Jawa abad ke-9, sehingga khalayak masa itu bisa langsung mengaitkan ajaran karma dengan pengalaman hidup mereka sendiri.
Menyusuri Kamadhatu: Alam Hasrat yang Sangat Familiar
Dalam tata ruang kosmologi Borobudur, Kamadhatu berada di paling bawah. Ini adalah fondasi fisik sekaligus filosofis. Secara harfiah, ia menggambarkan tingkatan keberadaan di mana manusia masih terikat rapat oleh keinginan—mulai dari lapar, cinta, keserakahan, rasa amarah, hingga kerinduan akan kedamaian.
Sebagai seorang arkeolog, saya melihat pilihan visual ini sebagai keputusan yang sangat jenius. Untuk membawa manusia menuju pencerahan di puncak candi (Arupadhatu), Borobudur tidak memulainya dari teori-teori langit yang rumit. Candi ini menyapa kita di tempat kita berdiri saat ini: di tengah-tengah kerumunan emosi manusia.
Saat kita menatap panel demi panel Karmawibhangga, kita tidak sedang melihat makhluk asing dari abad ke-9. Kita sedang menatap cermin.
Potret Keseharian Jawa Kuno: Dari Gosip Hingga Gelak Tawa
Yang paling memikat dari panel-panel Kamadhatu ini adalah detail intimitasi sosialnya. Para pemahat Jawa Kuno mengabadikan dinamika bermasyarakat dengan begitu hidup:
- Obrolan di Bawah Pohon: Ada panel yang memperlihatkan sekelompok orang duduk berjejer di bawah rindangnya pohon rindang. Wajah-wajah mereka condong ke depan, tangan mereka melambai—sebuah gestur universal dari orang-orang yang sedang bertukar cerita lokal atau bergosip.
- Kehangatan Domestik: Di panel lain, kita bisa melihat suasana rumah panggung tradisional. Seorang ibu sedang memangku anaknya, sementara sang ayah duduk di dekatnya dengan raut wajah tenang. Ada kehangatan keluarga yang melintasi jarak waktu 1.200 tahun.
- Konflik Ego dan Ketegangan: Tak jauh dari adegan hangat itu, relief lain menangkap ketegangan sosial: dua pria yang saling menunjuk dengan raut muka tegang, atau orang-orang yang bersaing memperebutkan sesuatu.
Detail busana, perhiasan dada, bentuk lumbung padi, hingga hewan-hewan peliharaan seperti anjing dan burung ditatah dengan kepekaan artistik yang luar biasa. Semua ini membuktikan bahwa para pemahat tidak bekerja di dalam ruang hampa; mereka memahat apa yang mereka lihat, rasakan, dan alami sehari-hari di desa-desa sekitar Borobudur era itu.
Sebuah Ruang Kelas, Bukan Ruang Sidang
Sering kali, orang keliru mengartikan relief Karmawibhangga hanya sebagai “ancaman doktrinal”—sebuah peringatan seram tentang siapa yang masuk surga dan siapa yang dilempar ke neraka.
Namun, jika kita mendalaminya dengan kacamata psikologis dan budaya, Kamadhatu terasa lebih mirip sebuah ruang kelas tempat belajar, bukan ruang sidang untuk menghakimi.
Relief ini tidak hadir untuk membuat manusia merasa kerdil atau berdosa. Sebaliknya, ia hadir untuk berkata:
“Lihatlah, inilah dirimu. Kamu bisa menjadi sangat penuh kasih, tetapi kamu juga bisa terseret oleh amarah. Kamu bisa berbagi, atau kamu bisa terbelenggu keserakahan. Kenali dulu siapa dirimu di bumi, sebelum kamu bercita-cita menyentuh langit.”
Setiap helai emosi yang terpahat di sana diakui keberadaannya. Para leluhur kita paham betul bahwa untuk bisa mengendalikan diri, manusia tidak boleh menyangkal emosinya, melainkan harus berani melihatnya secara jujur.
Menghubungkan Garis Abad ke-9 dan Abad ke-21
Duduk dan mengamati lembaran-lembaran relief tersembunyi ini membuat saya sadar satu hal: teknologi, arsitektur, dan busana manusia boleh berganti secara drastis dalam seribu tahun terakhir. Namun, struktur batin dan emosi dasar manusia hampir tidak berubah sama sekali.
Dinamika sosial yang terpahat di kaki Borobudur masih terjadi hari ini di linimasa media sosial kita, di ruang-ruang rapat kita, dan di dalam meja makan keluarga kita.
Lalu, bagaimana dengan adegan-adegan yang dianggap lebih keras, gelap, atau tabu pada relief ini? Bagaimana para pemahat kuno memvisualisasikan hukum konsekuensi dari tindakan-tindakan ekstrem tersebut tanpa kehilangan pesan edukatifnya?
Kita akan membedah kode sebab-akibat itu di Bagian 3.