Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di atas Bukit Menoreh ketika saya berdiri menatap kemegahan Candi Borobudur. Bagi siapa pun yang datang ke sini, pandangan pasti akan langsung tersedot ke atas—menuju stupa induk yang megah menjulang ke langit.

Namun, sebagai seseorang yang biasa berkutat dengan tanda zaman pada dinding-dinding batu purba dan seni cadas (rock art), perhatian saya justru kerap tersedot ke bawah. Ke arah tanah yang kita pijak. Tepat di balik dinding kaki candi yang kokoh menopang Borobudur hari ini, ada sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur hidup-hidup oleh pembuatnya.
Sebuah lorong waktu berisi 160 panel relief bernama Karmawibhangga.
Paradoks Abadi: Mengapa Batu Menyembunyikan Batu?
Dalam studi arkeologi, terutama saat kita meneliti guratan atau goresan gambar di dinding gua atau tebing cadas, kita paham satu hal: manusia memahat batu karena mereka ingin pesan mereka dilihat dan bertahan melintasi zaman. Batu adalah media keabadian.
Namun di Borobudur, kita menemukan sebuah paradoks pelestarian yang luar biasa ekstrem dari abad ke-9. Para pemahat Dinasti Syailendra telah menghabiskan waktu bertahun-tahun, mengucurkan keringat, dan mencurahkan kejeniusan seni mereka untuk memahat relief Karmawibhangga dengan sangat detail. Tapi begitu selesai, seluruh mahakarya itu langsung ditutup rapat dengan ribuan ton batu andesit baru.
Kenapa sejarah harus disembunyikan agar bisa bertahan?
Jawabannya adalah sebuah krisis teknik sipil purba. Saat pembangunan Borobudur hampir rampung, beban raksasa dari jutaan balok batu membuat bukit tempat candi berdiri mulai labil. Struktur bangunan mulai amblas, dan dinding-dinding candi terancam merosot ke luar. Longsor besar ada di depan mata.
Di titik inilah para arsitek kuno harus mengambil keputusan terberat dalam hidup mereka: mempertahankan keindahan visual relief Karmawibhangga tapi membiarkan seluruh candi runtuh, atau mengorbankan mahakarya itu demi keselamatan seluruh situs?
Mereka memilih opsi kedua. Sebuah “sabuk” penguat raksasa (encasement) dibangun mengelilingi kaki candi. Menimbun rapat cerita tentang hukum sebab-akibat itu dalam kegelapan abadi, demi memperpanjang umur Borobudur hingga seribu tahun ke depan.
Ini bukan tindakan sensor budaya, melainkan sebuah tindakan manajemen risiko dan pelestarian struktural yang sangat visioner. Mereka merelakan bagian dasar terkubur, agar puncak Borobudur tetap tegak menantang zaman.
Penyelamatan Data Abad ke-19: Ketika Kamera Mengalahkan Waktu
Bayangkan jika sejarah berhenti di situ. Kita hari ini tidak akan pernah tahu keberadaan relief ini. Beruntung, sejarah mempertemukan kita dengan momen rescue archaeology (arkeologi penyelamatan) awal di Nusantara pada tahun 1890.
Penemuan Tak Terduga Sang Insinyur Rel Kereta Api
Kejutan besar terjadi pada tahun 1885. J.W. IJzerman, seorang insinyur yang kala itu bertugas membangun jalur kereta api di Jawa sekaligus arkeolog amatir, tidak sengaja menemukan keberadaan kaki tersembunyi (hidden base) Borobudur. Menyadari adanya pergeseran dan amblasnya tanah, IJzerman memperhitungkan ada sekitar ratusan relief yang terkubur di bawah tanah.
IJzerman tidak hanya menemukan, ia merancang metode teknis pelestarian yang sangat hati-hati: menggali parit sempit secara bertahap, membersihkan relief, memotretnya, lalu segera menguruknya kembali agar Borobudur tidak runtuh.
Gagasan ini sempat ditolak, hingga akhirnya pada tahun 1890, Menteri Urusan Kolonial mengucurkan dana sebesar 9.000 gulden. Komisi teknis yang rumit ini diserahkan kepada Kassian Cephas. Antara tahun 1890–1891, Cephas berhasil mengambil 164 foto plat kaca (160 panel relief dan 4 foto sudut candi).
Tiga puluh tahun kemudian (1920), foto-foto Cephas inilah yang diabadikan oleh N.J. Krom dan Th. van Erp dalam buku monumental Beschrijving van Barabudur, dan dikodifikasikan secara resmi sebagai “Relief Seri O”.
Pemerintah Hindia Belanda kala itu memutuskan untuk membongkar sabuk batu tambahan tersebut secara bertahap—hanya beberapa panel sekali bongkar—untuk didokumentasikan. Dan sosok yang memikul tanggung jawab besar merekam data visual yang rapuh ini adalah Kassian Cephas, fotografer pribumi pertama asal Yogyakarta.
Dikutip dari Wikipedia, Kassian Cephas (15 Januari 1845–16 November 1912) merupakan fotografer pribumi Jawa pertama yang berprofesi secara profesional di Hindia Belanda. Berasal dari lingkungan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, ia belajar fotografi pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VI dan kemudian diangkat sebagai fotografer resmi Kesultanan pada tahun 1871. Melalui keahliannya, Cephas menghasilkan berbagai potret keluarga kerajaan Yogyakarta yang menjadi dokumentasi visual penting mengenai kehidupan dan budaya Jawa pada akhir abad ke-19.

Selain memotret lingkungan keraton, Cephas juga mendokumentasikan berbagai situs arkeologi dan warisan budaya Jawa yang digunakan dalam penelitian ilmiah pada masa kolonial. Keterlibatannya dalam KITLV dan lembaga arkeologi Hindia Belanda menunjukkan kontribusinya dalam pelestarian budaya Jawa melalui fotografi. Atas jasa-jasanya, ia memperoleh penghargaan medali emas kehormatan dari Orde van Oranje-Nassau. Warisan fotografinya kemudian diteruskan oleh putra sulungnya, Sem Cephas, yang melanjutkan usaha fotografi keluarga hingga tahun 1918. Karya-karyanya Cephas bisa diakses melalui google art Kassian Cephas
Dengan kamera plat kaca yang berat dan teknologi masanya, Cephas bekerja berkejaran dengan waktu. Begitu satu panel dibongkar dan dibersihkan dari debu berabad-abad, Cephas langsung menjepretnya. Setelah datanya terekam dalam bentuk klise foto, panel tersebut langsung ditutup kembali demi menjaga kestabilan candi.
Proses lepas-pasang batu ini dilakukan berulang-ulang hingga 160 panel selesai didokumentasikan. Melalui lensa kamera Cephas-lah, “ruh” dari Karmawibhangga berhasil diselamatkan dari kegelapan tanah, sebelum dinding batu itu kembali dikunci rapat hingga hari ini.
Menatap Lembaran Masa Lalu
Hari ini, saat saya membuka kembali salinan foto-foto hitam-putih karya Kassian Cephas, saya seperti sedang melakukan ekskavasi mental. Guratan pahatannya menangkap denyut nadi kehidupan Jawa Kuno yang begitu organik: ada adegan orang bergosip di bawah pohon, canda tawa keluarga, pertengkaran di jalanan, hingga adegan-adegan spiritual yang mendalam.
Kaki tambahan Borobudur mungkin berhasil mengunci fisiknya, tetapi dokumentasi Cephas telah membebaskan nilainya.
Namun, cerita di balik dinding yang terkunci ini baru permulaan. Di bagian selanjutnya, mari kita melangkah lebih dalam ke dalam lorong virtual Kamadhatu. Kita akan membedah bagaimana relief-relief tersembunyi ini sebenarnya adalah cermin psikologis yang sangat jujur tentang diri kita sendiri—manusia modern dengan segala hasrat dan egonya.
Sampai jumpa di Bagian 2!